Di Balik Penampilan Gemilang Vozinha di Piala Dunia, Kiper Cape Verde Ini Ternyata Mengajar Voli di Sekolah
Dari Sosok Biasa Menjadi Pahlawan Piala Dunia
BOLA - Kisah Vozinha, kiper Cape Verde yang mengajar voli di Sekolah saat musim panas sebelum bersinar di Piala Dunia/ Foto: IG (@433)
AVNMEDIA.ID - Nama Vozinha mendadak menjadi perbincangan dunia setelah tampil luar biasa saat membantu Cape Verde menahan imbang Spanyol 0-0 pada laga debut mereka di Piala Dunia 2026.
Kiper berusia 40 tahun itu melakukan tujuh penyelamatan penting dan menggagalkan berbagai peluang emas para pemain Spanyol.
Berkat penampilannya, Vozinha terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan dan langsung menjadi salah satu cerita paling inspiratif di turnamen tersebut.
Namun, di balik ketenarannya saat ini, kehidupan Vozinha jauh dari gambaran pesepak bola bintang yang penuh kemewahan.
Karier Profesional yang Datang Terlambat
Vozinha, yang memiliki nama lengkap Josimar Dias, tidak meniti karier seperti kebanyakan pemain elite dunia.
Ia baru benar-benar memulai karier profesional pada usia pertengahan 20-an setelah sempat diremehkan karena posturnya dianggap kurang ideal untuk menjadi penjaga gawang.
Setelah mengalami pertumbuhan fisik yang signifikan, peluang mulai terbuka dan ia berkarier di sejumlah negara seperti Angola, Siprus, Slovakia, Moldova, hingga Portugal.
Meski telah lama membela tim nasional Cape Verde sejak 2012, perjalanan menuju Piala Dunia tidak pernah mudah.
Bahkan, ada masa ketika Vozinha sempat mempertimbangkan pensiun dari tim nasional setelah kehilangan tempat utama.
Namun dukungan rekan-rekannya membuat ia bertahan demi mengejar mimpi tampil di Piala Dunia.
Mengajar Voli untuk Anak-Anak Saat Libur Musim Panas
Salah satu fakta yang membuat banyak penggemar semakin kagum adalah aktivitas Vozinha di luar sepak bola.
Setiap musim panas, Vozinha rutin meluangkan waktunya untuk mengajar voli kepada anak-anak di Cape Verde melalui sebuah sekolah olahraga bernama Instituto Reis.
Kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari rutinitasnya selama masa liburan.
Namun tahun ini situasinya berbeda.
Setelah Cape Verde lolos ke Piala Dunia dan Vozinha menjadi pahlawan nasional, pihak Instituto Reis mengumumkan bahwa sang kiper tidak dapat mengajar voli seperti biasanya karena harus menjalankan "komitmen kecil bernama Piala Dunia".
Pengumuman tersebut viral di media sosial dan membuat banyak penggemar tersentuh.
Fakta bahwa seorang pemain yang tampil gemilang di panggung terbesar sepak bola dunia masih menyempatkan diri mengajar olahraga kepada anak-anak membuat sosoknya semakin dicintai publik.
Popularitas Meledak setelah Menahan Spanyol
Penampilan heroiknya melawan Spanyol membuat popularitas Vozinha melonjak drastis.
Ia yang sebelumnya tidak terlalu dikenal di luar Afrika mendadak menjadi bintang internet.
Jumlah pengikut media sosialnya meningkat sangat cepat dan namanya menjadi perbincangan di berbagai negara.
Bagi Cape Verde, hasil imbang melawan Spanyol terasa seperti kemenangan.
Negara kepulauan kecil di Afrika Barat itu tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia dan langsung mampu menahan salah satu favorit juara.
Di tengah euforia tersebut, Vozinha menjadi simbol kerja keras, ketekunan, dan mimpi yang tidak pernah padam meski usia terus bertambah.
Kisahnya membuktikan bahwa pahlawan sepak bola tidak selalu lahir dari akademi elite atau klub besar.
Terkadang, mereka datang dari sekolah voli kecil di kampung halaman, mengajar anak-anak saat liburan, lalu tampil bak tembok kokoh di panggung Piala Dunia. (naf)





