DANA Dorong Bisnis Beralih dari Hype AI ke Dampak Nyata, Produktivitas Naik 57%

DANA AI@Work Lab di IdeaFest 2026/ HO to Avnmedia.id

AVNMEDIA.ID -  Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di dunia bisnis terus meningkat. Namun, tingginya tingkat adopsi teknologi belum otomatis menghasilkan nilai bagi perusahaan.

Bagi DANA Indonesia, ukuran keberhasilan AI justru terletak pada seberapa jauh teknologi tersebut mampu menyelesaikan persoalan bisnis, meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas layanan, hingga menghasilkan dampak yang dapat diukur.

Pandangan tersebut disampaikan DANA melalui AI@Work Lab di IdeaFest 2026, yang mempertemukan pelaku bisnis, pemimpin teknologi, dan komunitas untuk membahas implementasi AI serta perubahan peran talenta teknologi.

Dalam sesi “The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value”, CEO & Co-Founder DANA Indonesia Vince Iswara bersama Founder Genesis & Sevenpreneur Raymond Chin membahas tantangan perusahaan dalam membawa AI dari sekadar eksperimen menuju teknologi yang menghasilkan nilai bisnis.

“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince.

AI Dorong Produktivitas Operasional DANA

Implementasi AI di DANA menunjukkan bagaimana teknologi tersebut mulai masuk ke dalam proses kerja perusahaan.

Saat ini, sekitar 80-90 persen kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, penggunaan AI tidak membuat peran engineer hilang.

Para engineer tetap memiliki tanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan terhadap hasil akhir.

Sepanjang 2025, penerapan agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57 persen.

Selain itu, implementasi tersebut turut mencatat peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13 persen serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10 persen.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa bagi perusahaan, nilai AI tidak berhenti pada kemampuan teknologi menghasilkan kode atau menjalankan tugas secara otomatis. Dampak terhadap operasional dan pelanggan menjadi ukuran yang lebih penting.

DANA Terapkan AI dengan Tata Kelola

Di sisi lain, adopsi AI juga membawa tantangan terkait risiko dan tata kelola.

DANA menerapkan pendekatan Smart Friction, yakni penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.

Pendekatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Sepanjang 2025, penerapan langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas yang terindikasi perjudian online di platform hingga 80 persen.

Bagi DANA, penerapan teknologi tetap perlu diimbangi dengan tujuan yang jelas, parameter keberhasilan, serta akuntabilitas. Perusahaan juga memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen dengan teknologi baru, namun tetap dalam kerangka tata kelola yang bertanggung jawab.

AI Ubah Kompetensi Talenta Teknologi

Dampak AI terhadap dunia kerja turut menjadi pembahasan dalam sesi “Beyond Coding: Building a Career AI Can’t Replace”.

Sesi tersebut menghadirkan Norman Sasono, CTO DANA Indonesia; Sai Prasad Kolluri, CTO Google Cloud Indonesia; dan Abil Sudarman, Founder ASSAI.

Diskusi menyoroti perubahan peran software engineer di tengah semakin mudahnya proses menghasilkan kode menggunakan AI.

Kemampuan coding tetap penting, tetapi keunggulan seorang talenta teknologi ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan memahami kebutuhan bisnis, memecahkan persoalan, merancang arsitektur, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap hasil secara menyeluruh.

“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman.

Melalui AI@Work Lab, DANA mendorong perusahaan untuk melihat AI secara lebih pragmatis.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar seberapa cepat sebuah perusahaan mengadopsi AI, tetapi masalah bisnis apa yang dapat diselesaikan, seberapa besar hasilnya berubah, dan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa di tengah derasnya perkembangan AI, perusahaan perlu menggeser fokus dari sekadar mengejar hype menuju penciptaan nilai bisnis yang konkret dan terukur. (jas)

 

Related News
Recent News
image
Business Audi Nuvolari Resmi Diperkenalkan, Supercar 1.001 PS yang Jadi Arah Baru Audi
by Adrian Jasman2026-09-07 21:24:08

Audi Nuvolari hadir dengan tenaga 1.001 PS dan kecepatan 350 km/jam, hanya diproduksi 499 unit.

image
Business 100 Tahun Teknologi Wiper Bosch: Visibilitas Jadi Kunci Keselamatan Berkendara
by Adrian Jasman2026-09-04 17:00:00

Bosch rayakan 100 tahun teknologi wiper untuk meningkatkan visibilitas dan keselamatan berkendara.