Amar Bank dan JAFF Dorong Bankability Industri Perfilman Nasional

KOLABORASI - Kolaborasi Amar Bank dan JAFF selanjutnya akan diperluas melalui forum diskusi bersama enam asosiasi yang masing-masing mewakili profesi di industri perfilman/ HO to Avnmedia.id

AVNMEDIA.IDIndustri perfilman Indonesia menghadapi tantangan baru di tengah pertumbuhan pasar yang semakin besar.

Bukan lagi semata soal jumlah penonton atau produksi film, tetapi bagaimana pelaku industri membangun tata kelola bisnis yang cukup kuat untuk mengakses pembiayaan perbankan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian PT Bank Amar Indonesia (Amar Bank) yang menggandeng JAFF sebagai hub yang menghubungkan berbagai elemen dalam ekosistem perfilman nasional.

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kesiapan finansial dan bankability pelaku industri kreatif, khususnya perfilman, melalui pemanfaatan teknologi serta tata kelola keuangan yang lebih terstruktur.

Langkah tersebut datang ketika ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Pada 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif mencapai Rp1.757,87 triliun atau tumbuh 6,86 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen.

Industri Film Tumbuh, Akses Pembiayaan Jadi Tantangan

Subsektor film, animasi, dan video menjadi salah satu bagian dari ekonomi kreatif yang menunjukkan perkembangan pesat.

Industri layar lebar nasional pada 2025 tercatat menguasai 58 persen pangsa pasar box office, dengan jumlah penonton mencapai 82,9 juta orang. Sektor tersebut juga menopang sekitar 387.000 lapangan kerja.

Angka tersebut menunjukkan bahwa industri perfilman memiliki basis pasar dan dampak ekonomi yang besar.

Namun, pertumbuhan pasar belum otomatis membuat seluruh pelaku industri mudah mendapatkan pembiayaan.

Salah satu tantangannya adalah karakter bisnis perfilman yang berbeda dengan sektor usaha konvensional.

Banyak kegiatan produksi berjalan berbasis proyek, sementara aset utama yang dimiliki pelaku industri berupa kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP).

Dalam sistem pembiayaan perbankan, penilaian kredit umumnya mempertimbangkan proyeksi arus kas (cash flow) dan kepastian agunan (collateral).

Di sisi lain, IP film belum memiliki standar valuasi finansial yang seragam seperti aset fisik. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tantangan ketika pelaku industri membutuhkan pembiayaan produktif.

Amar Bank Siapkan Pendekatan Pembiayaan Berbasis Teknologi

Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, mengatakan karakter bisnis industri kreatif membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Menurutnya, Amar Bank berupaya memahami karakter bisnis tersebut melalui penyediaan teknologi finansial yang dapat membantu pelaku usaha membangun kesiapan untuk masuk ke ekosistem perbankan.

Amar Bank melihat industri kreatif memiliki karakter bisnis yang unik dan umumnya berbasis proyek. Karakter inilah yang coba kita pahami lewat penyediaan teknologi keuangan adaptif. Untuk itu, Amar Bank memilih pendekatan nurturing, di mana teknologi kami mendampingi pemilik usaha di sektor kreatif agar menjadi bankable dan siap mengakses layanan keuangan,” ujar Josua.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Amar Bank Bisnis.

Platform ini memungkinkan pemilik usaha memanfaatkan teknologi digital untuk membangun rekam jejak transaksi, merapikan pencatatan keuangan, memperkuat tata kelola internal, hingga mengelola berbagai dokumen operasional dalam satu platform.

Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya ditempatkan sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai bagian dari proses membangun kredibilitas bisnis.

Dari Rekam Transaksi Menuju Creditworthiness

Bagi sektor perfilman, kemampuan membangun rekam jejak keuangan menjadi penting karena kelayakan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh potensi proyek yang akan dikerjakan.

Kedisiplinan dalam mencatat transaksi, transparansi keuangan, dan tata kelola usaha dapat membantu lembaga keuangan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bisnis.

“Saat kedisiplinan dan transparansi finansial terbentuk, sistem perbankan dapat mengukur tingkat kelayakan kredit (creditworthiness) secara presisi. Semakin kuat dan rapi tata kelola usahanya, semakin besar peluang serta fleksibilitas pembiayaan produktif yang dapat disalurkan,” ujar Josua.

Pendekatan ini menempatkan proses menuju bankable sebagai sesuatu yang dibangun sejak awal, bukan baru dilakukan ketika pelaku usaha membutuhkan pinjaman.

Bagi industri film yang memiliki rantai bisnis panjang, penguatan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas.

Mulai dari rumah produksi, pekerja kreatif, penyedia peralatan, distributor, hingga UMKM yang menjadi bagian dari rantai pasok industri dapat memperoleh manfaat apabila tata kelola bisnis semakin tertata.

Amar Bank dan JAFF Siapkan Forum Bersama Asosiasi Film

Kolaborasi Amar Bank dan JAFF selanjutnya akan diperluas melalui forum diskusi bersama enam asosiasi yang masing-masing mewakili profesi di industri perfilman.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membahas kebutuhan dan tantangan finansial yang dihadapi pelaku industri dari berbagai sisi.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan akses pembiayaan perfilman tidak dapat diselesaikan hanya dari sisi perbankan.

Diperlukan keterlibatan pelaku industri, asosiasi, pembuat kebijakan, serta ekosistem pendukung untuk membangun standar tata kelola yang membuat bisnis kreatif semakin mudah dipahami oleh lembaga keuangan.

“Dengan partisipasi Amar Bank dan JAFF, kami mengajak para pemangku kepentingan di industri kreatif, baik asosiasi maupun pembuat kebijakan, untuk berkolaborasi bersama membangun industri film yang semakin bankable dan memperluas akses pembiayaan produktif bagi ekonomi kreatif Indonesia,” tutup Josua.

Bankability Menjadi Fondasi Pertumbuhan Perfilman

Pertumbuhan jumlah penonton dan nilai ekonomi menunjukkan bahwa perfilman Indonesia memiliki potensi pasar yang besar.

Namun, untuk membawa pertumbuhan tersebut ke level berikutnya, industri membutuhkan fondasi bisnis yang lebih kuat.

Kemampuan mencatat transaksi, mengelola arus kas, menyusun dokumen bisnis, dan membangun rekam jejak finansial menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Kolaborasi Amar Bank dan JAFF pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai akses layanan perbankan.

Lebih jauh, inisiatif ini menyoroti kebutuhan industri perfilman untuk bertransformasi dari ekosistem berbasis proyek menjadi industri dengan tata kelola bisnis yang semakin terukur.

Jika kesiapan finansial tersebut dapat dibangun secara konsisten, peluang pembiayaan produktif bagi industri perfilman dan rantai pasoknya akan semakin terbuka.

Pada titik inilah bankability dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi perfilman Indonesia secara berkelanjutan. (jas)

 

Related News
Recent News
image
Business Roblox Gandeng Ruangguru, Bidik 7.500 Siswa Indonesia Lewat Program Pendidikan Digital
by Adrian Jasman2026-08-01 10:51:20

Roblox dan Ruangguru targetkan 7.500 siswa Indonesia lewat program pendidikan digital.

image
Business blu by BCA Digital Catat Tren Collaborative Saving, dari Dana Healing hingga Pernikahan Lewat Fitur bluGether
by Adrian Jasman2026-07-24 23:48:30

BCA Digital mencatat tren menabung bersama meningkat lewat bluGether.