AI dan Hilirisasi Jadi Peluang Baru, DBS Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Geopolitik Global
Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo sedang berbagi perspektif dalam sesi Navigating US-Asia Market Regime sebagai rangkaian DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World di Jakarta, Rabu (15/07/2026). Para narasumber mengungkapkan bahwa Indonesi
Ia menilai kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara.
Namun demikian, Dino mengingatkan bahwa keunggulan geopolitik harus dibarengi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar global.
DBS: Investasi Perlu Melihat Tren Jangka Panjang
Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan keputusan investasi saat ini tidak lagi cukup hanya mempertimbangkan sentimen pasar jangka pendek.
Investor, kata dia, perlu melihat perubahan struktural ekonomi global yang sedang berlangsung.
Menurut Djoko, terdapat tiga kawasan utama yang layak menjadi perhatian investor, yakni Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia.
Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, terutama pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Sementara Tiongkok dinilai berhasil mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, Asia memperoleh keuntungan dari pergeseran rantai pasok global.
"Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional agar nasabah dapat mengambil keputusan investasi secara lebih percaya diri," ujarnya.
AI dan Hilirisasi Jadi Katalis Baru Pertumbuhan Indonesia
Selain menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, Asia juga berperan penting dalam rantai pasok industri masa depan.
Indonesia disebut memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pemasok utama mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang dibutuhkan industri teknologi global.
Permintaan terhadap mineral strategis diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya investasi dunia pada sektor Artificial Intelligence.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia melalui program hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah.





