Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jadi Venue Pertama di Indonesia Gunakan Sennheiser Spectera
Sennheiser Wireless System / HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) mulai mengandalkan teknologi wireless terbaru untuk menyederhanakan operasional produksi pertunjukan.
Venue berkapasitas 1.200 penonton ini menjadi venue pertama di Indonesia yang menggunakan Sennheiser Spectera, ekosistem wideband bidirectional wireless.
Teknologi tersebut digunakan untuk menjawab kebutuhan produksi yang semakin kompleks, terutama ketika puluhan mikrofon wireless harus beroperasi secara bersamaan.
Sebagai salah satu venue pertunjukan terbesar di kompleks seni dan budaya Taman Ismail Marzuki, Teater Besar digunakan untuk berbagai produksi, mulai dari teater, musikal, konser hingga pertunjukan budaya.
Setiap produksi membawa kebutuhan teknis yang berbeda. Kondisi tersebut membuat tim teknis harus melakukan konfigurasi sistem audio dan wireless secara berulang, termasuk memastikan pengelolaan frekuensi radio atau RF coordination tetap optimal.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan Teater Besar mengembangkan infrastruktur sistem audionya.
Pada 2016, venue mulai merencanakan peningkatan sistem audio dari teknologi analog menuju digital. Sistem tersebut kemudian diperkenalkan pada 2018 dengan Albeta bertindak sebagai system integrator.
Namun, pertumbuhan penggunaan mikrofon wireless kemudian menghadirkan tantangan baru.
“Yang kami cari pada dasarnya adalah sistem yang sederhana, mudah di-setup, tidak memakan terlalu banyak ruang, dan memiliki proses instalasi yang praktis,” ujar Dwi Winarno, Technical Audio Specialist di Teater Besar.
Menurut Dwi, sistem tersebut juga harus memiliki fleksibilitas untuk dikembangkan mengikuti kebutuhan produksi di masa mendatang.
Karena itu, pengembangan tidak diarahkan untuk mengganti seluruh infrastruktur audio yang sudah tersedia, melainkan memperluas kemampuan sistem wireless.

Puluhan Mikrofon Wireless Bikin RF Makin Kompleks
Produksi teater berskala besar dapat menggunakan puluhan mikrofon wireless dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut membuat pengelolaan spektrum frekuensi radio menjadi semakin kompleks.
Dwi mengatakan, sebelumnya Teater Besar menggunakan arsitektur konvensional dengan satu perangkat untuk satu receiver.
Ketika jumlah mikrofon mencapai 40 hingga 50 unit, potensi benturan frekuensi semakin besar.
“Salah satu tantangan terbesar kami adalah interferensi RF,” ujar Dwi.
Menurutnya, benturan frekuensi dapat menghasilkan noise dan interferensi yang berpotensi mengganggu jalannya produksi.
Selain persoalan RF, karakteristik akustik Teater Besar juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan tim teknis. Arsitektur ruangan dan perilaku suara dapat memengaruhi performa sistem audio.
Persoalan lain muncul dari sisi infrastruktur.
Sebelum menggunakan Spectera, semakin banyak mikrofon wireless yang digunakan berarti semakin banyak receiver dan perangkat pendukung yang harus disiapkan.
Untuk produksi dengan 32 channel wireless, misalnya, tim teknis harus menyiapkan rak berukuran besar serta mengalokasikan waktu tambahan untuk pemindahan, persiapan, dan instalasi perangkat.
Bagi Teater Besar, persoalannya bukan sekadar bagaimana menambah jumlah mikrofon, tetapi bagaimana mengelola sistem wireless secara lebih efisien.
Sennheiser Spectera Pangkas Kompleksitas Perangkat
Teater Besar kemudian menjadi venue pertama di Indonesia yang menerapkan Sennheiser Spectera.
Platform tersebut diperkenalkan ketika teknologinya masih relatif baru di pasar.
Yosafat, Direktur Albeta yang menjadi system integrator dalam proyek tersebut, mengatakan keputusan tersebut berawal dari demonstrasi dan diskusi bersama tim Sennheiser.
“Saya telah melihat sistem ini diuji coba, tetapi belum pernah melihatnya digunakan dalam produksi live berskala besar,” ujar Yosafat.
Salah satu hal yang langsung terlihat adalah arsitektur perangkat yang lebih ringkas.
Dwi mengatakan, sebelumnya penggunaan 32 unit terpisah membuat tim membutuhkan rak berukuran besar untuk menampung seluruh perangkat.
Dengan Spectera, kebutuhan tersebut dapat dipangkas.
“Dengan sistem ini, satu unit yang ringkas dapat menampung semuanya. Sebagian besar rak besar tersebut kini sudah tidak lagi diperlukan,” jelas Dwi.
Saat ini, sistem di Teater Besar terdiri dari Sennheiser Spectera Base Station, dua antena DAD, 15 bidirectional bodypack, serta mikrofon headset Sennheiser HSP 4.
Sistem tersebut terutama digunakan untuk produksi teater dan musikal. Namun, penggunaannya juga diperluas untuk berbagai kegiatan seperti acara korporat, talk show, diskusi panel, dan produksi sejenis.
70 Persen Produksi Wireless Teater Besar Kini Pakai Spectera
Dampak penerapan teknologi tersebut mulai terlihat pada operasional harian.
Sekitar 70 persen produksi di Teater Besar yang membutuhkan sistem wireless kini menggunakan Spectera. Konfigurasi yang digunakan umumnya melibatkan sekitar 15 wireless channels.
Sejak diterapkan, sistem tersebut telah mendukung sekitar delapan hingga 10 produksi di Teater Besar.
Pengurangan jumlah perangkat membuat proses persiapan menjadi lebih sederhana.
“Perbedaannya dibandingkan dengan sistem analog kami sebelumnya sangat signifikan,” kata Dwi.
Menurutnya, sistem baru tersebut lebih ringkas dan efisien, baik dari sisi waktu maupun penggunaan ruang.
Efisiensi juga dirasakan dalam pengelolaan RF.
Sebelum pertunjukan dimulai, tim teknis dapat menyalakan perangkat yang akan digunakan dan menganalisis kondisi RF melalui Spectera WebUI.
Antarmuka tersebut menampilkan aktivitas RF secara visual. Teknisi kemudian dapat mengidentifikasi frekuensi dengan tingkat interferensi lebih rendah dan menentukan konfigurasi yang sesuai untuk produksi.
“Sebelumnya, kami tidak memiliki cara untuk memvisualisasikan kondisi RF seperti ini,” ujar Dwi.
Dengan software tersebut, tim teknis dapat melihat kondisi RF secara langsung sebelum acara dimulai.
Spectera WebUI juga menyediakan informasi mengenai kualitas sinyal, status perangkat, hingga kondisi baterai ketika sistem digunakan.
Teknologi Wireless Jadi Bagian dari Efisiensi Produksi
Bagi tim teknis Teater Besar, manfaat teknologi tersebut tidak hanya diukur dari jumlah perangkat yang berkurang.
Kemampuan memantau sistem secara real-time membuat teknisi dapat mengalokasikan lebih banyak perhatian pada jalannya produksi dibandingkan menangani infrastruktur wireless.
Status perangkat seperti volume, latensi, level baterai, dan kondisi RF dapat dipantau melalui software.
Dwi, yang telah bergabung dengan Teater Besar sejak 2018, mengatakan pengalaman menggunakan beberapa generasi teknologi audio membuatnya dapat membandingkan langsung perubahan yang terjadi setelah Spectera diterapkan.
“Sejak mulai menggunakan Spectera, saya belum menemukan adanya gangguan atau masalah teknis,” ujarnya.
Menurut dia, selama sistem telah dikonfigurasi dan seluruh perangkat terhubung dengan baik, tim teknis cukup memantau performanya melalui software selama pertunjukan berlangsung.
Bagi Teater Besar, pendekatan tersebut memberikan fleksibilitas untuk menghadapi produksi dengan format dan skala berbeda sepanjang tahun.
Teknologi wireless tidak lagi hanya diposisikan sebagai perangkat pendukung, tetapi menjadi bagian dari strategi untuk membuat proses produksi lebih ringkas, terukur, dan mudah dikembangkan.
“Sejauh ini, belum ada sistem lain yang benar-benar seperti ini,” pungkas Dwi. (jas)
- CrowdStrike Gandeng Telkom Indonesia, Bidik Pasar Keamanan Siber Berbasis AI
- Konektivitas Tak Lagi Cukup Mengandalkan Kabel, Satelit Masuk ke Peta Infrastruktur Digital
- Cara Membeli dan Mengaktifkan eSIM XL dengan QR Code
- Laptop AI Copilot+™ Murah Apa yang Terbaik? Kenali Keunggulan ASUS Vivobook S14 OLED





