Survei Bakolan: 67% UMKM Marketplace Siap Agresif Hadapi Ramadan 2026, Diskon Jadi Senjata Utama
SURVEI BAKOLAN - Survei internal yang dilakukan oleh Bakolan terhadap lebih dari 80 pelaku UMKM di berbagai kategori produk menunjukkan 78% responden siap menghadapi lonjakan permintaan Ramadan 2026/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Ramadan kembali diproyeksikan menjadi puncak siklus konsumsi tahunan ritel nasional.
Tahun ini, persaingan di marketplace diprediksi semakin kompetitif, seiring meningkatnya kesiapan dan agresivitas pelaku UMKM dalam menyusun strategi penjualan.
Survei internal yang dilakukan oleh Bakolan terhadap lebih dari 80 pelaku UMKM di berbagai kategori produk menunjukkan 78% responden siap menghadapi lonjakan permintaan Ramadan 2026.
Bahkan, 67% di antaranya menyatakan sangat siap.
Temuan ini menandakan adanya peningkatan kematangan strategi bisnis UMKM marketplace dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepercayaan Diri UMKM Meningkat, Strategi Promosi Lebih Agresif
Sebanyak 56% pelaku usaha berencana menerapkan strategi yang lebih agresif dibanding Ramadan tahun lalu.
Sisanya memilih mempertahankan pendekatan yang dinilai masih relevan.
CEO Bakolan, Angky Yan Pramudya, menilai ada perubahan pola pikir pelaku UMKM dalam memanfaatkan momentum musiman.
“Kami melihat adanya peningkatan kepercayaan diri pelaku usaha dalam menyambut Ramadan tahun ini. Mereka tidak hanya bersiap secara operasional, tetapi juga lebih berani dalam menyusun strategi promosi,” ujarnya dalam keterangan pers diterima redaksi Avnmedia.id hari ini.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan pasif menjadi lebih proaktif, dengan fokus pada optimalisasi transaksi selama periode puncak.
Stok dan Diskon Jadi Prioritas Utama
Kesiapan operasional menjadi fondasi utama. Sebanyak 89% pelaku usaha menempatkan ketersediaan stok barang atau bahan baku sebagai prioritas pertama.
Hal ini menegaskan pentingnya manajemen supply chain dalam menjaga stabilitas penjualan.
Di sisi lain, 67% UMKM memprioritaskan promosi dan diskon sebagai strategi utama menarik konsumen.
Menariknya, seluruh responden mengakui diskon harga tetap menjadi strategi paling efektif. Namun pendekatan promosi kini semakin variatif:
- 56% mengombinasikan diskon dengan bundling produk
- 22% menyiapkan gratis ongkir dan cashback
Pergeseran ini mencerminkan upaya pelaku usaha untuk tidak semata-mata terjebak dalam perang harga, melainkan juga meningkatkan nilai transaksi dan loyalitas pelanggan.
Tantangan Besar: Lonjakan Permintaan Sulit Diprediksi
Di tengah optimisme tersebut, tantangan utama tetap ada.
Sebanyak 56% responden mengaku kesulitan memprediksi lonjakan permintaan.
Ketidakpastian pola belanja konsumen menuntut UMKM lebih disiplin dalam mengelola persediaan dan arus kas agar tetap adaptif terhadap dinamika pasar.
Menurut Angky, momentum Ramadan harus dikelola secara strategis agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan.
“Ramadan selalu menjadi puncak siklus konsumsi tahunan. Namun yang membedakan tahun ini adalah kematangan strategi. Pelaku usaha mulai memahami bahwa momentum besar harus dikelola dengan disiplin operasional dan strategi promosi yang tepat, agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga sehat,” jelasnya.
Ramadan Bukan Sekadar Momentum Penjualan
Secara historis, Ramadan mencatat peningkatan signifikan pada kategori kebutuhan rumah tangga, makanan dan minuman, fashion, serta hampers dan parcel.
Dengan mayoritas UMKM semakin agresif tahun ini, persaingan harga dan promo diperkirakan semakin ketat.
Konsumen akan menikmati lebih banyak pilihan dan penawaran menarik, namun pelaku usaha tetap dituntut menjaga keseimbangan antara daya saing dan profitabilitas jangka panjang.
Bakolan menilai Ramadan bukan hanya peluang mendongkrak omzet, tetapi juga momen strategis membangun loyalitas pelanggan.
“Ramadan bukan hanya soal peningkatan penjualan, tetapi juga tentang bagaimana UMKM membangun loyalitas pelanggan jangka panjang. Strategi yang tepat di bulan ini bisa berdampak hingga setelah Lebaran,” tutup Angky. (jas)




