Prototipe Ponsel Lipat Tiga Oppo Sudah Terkonfirmasi, Tapi Produknya Belum Bisa Dijual! Kok Bisa?
SMARTPHONE - Saat brand lain seperti Huawei dan Samsung sudah mulai memamerkan ponsel tri-fold mereka, Oppo justru memilih strategi berbeda: menunggu momen yang tepat/ X @saaaanjjjuuu
AVNMEDIA.ID - Oppo kembali bikin penasaran pecinta teknologi.
Di tengah persaingan ponsel lipat yang makin panas, perusahaan asal Tiongkok ini mengonfirmasi bahwa mereka sudah memiliki prototipe ponsel lipat tiga (tri-fold) yang berfungsi penuh.
Namun uniknya, meski teknologinya sudah siap, Oppo belum berniat menjual perangkat tersebut ke pasar dalam waktu dekat.
Pertanyaannya, kenapa ponsel secanggih ini justru “disimpan di laci”?
Apakah Oppo ragu, atau ada alasan besar di balik keputusan ini?
Oppo Akui Sudah Punya Prototipe Ponsel Tri-Fold
Informasi ini diungkap langsung oleh petinggi Oppo dalam pernyataan terbaru.
Mereka menyebut bahwa Oppo tidak hanya sekadar mengonsep ponsel lipat tiga, tetapi sudah benar-benar membangun beberapa unit prototipe.
Bahkan, seorang manajer produk Oppo secara bercanda mengaku memiliki lebih dari satu prototipe tri-fold yang masih aktif dan tersimpan di laci kantornya.
Ini menegaskan satu hal penting: secara teknologi, Oppo sudah siap.
Artinya, berbagai tantangan teknis utama—mulai dari mekanisme engsel ganda, fleksibilitas layar, hingga durabilitas perangkat—kemungkinan besar sudah teratasi.
Namun, kesiapan teknologi ternyata belum cukup untuk membawa ponsel lipat tiga Oppo ke rak toko.
Tantangan Terbesar Bukan Teknologi, Tapi Produksi Massal
Membuat prototipe dan memproduksi massal adalah dua hal yang sangat berbeda.
Prototipe bisa dibuat dalam jumlah terbatas dengan biaya tinggi, sementara produksi massal menuntut efisiensi, stabilitas kualitas, dan harga yang masuk akal.
Di sinilah Oppo mulai berhitung.
Ponsel tri-fold membutuhkan:
- Panel layar fleksibel lebih banyak
- Sistem engsel ganda yang kompleks
- Material premium agar tetap tipis dan kuat
Semua itu membuat biaya produksi melonjak tajam, bahkan jauh di atas ponsel lipat dua yang saat ini sudah beredar di pasaran.
Harga Jadi Penghalang Utama
Alasan terbesar kenapa Oppo belum melepas ponsel lipat tiganya adalah harga jual yang terlalu mahal.
Saat ini, perangkat tri-fold di pasar global bisa dibanderol di atas US$2.400 atau setara puluhan juta rupiah.
Bahkan bagi penggemar gadget hardcore, angka tersebut bukan harga yang mudah diterima.
Realitanya, pasar ponsel ultra-premium masih sangat kecil, dan banyak produsen besar pun kesulitan meraih keuntungan dari segmen ini.
Oppo tampaknya tidak ingin terburu-buru masuk ke pasar yang:
- Berisiko tinggi
- Volume penjualan kecil
- Margin keuntungan belum jelas
Bersaing dengan Samsung dan Huawei? Oppo Pilih Menunggu
Saat brand lain seperti Huawei dan Samsung sudah mulai memamerkan ponsel tri-fold mereka, Oppo justru memilih strategi berbeda: menunggu momen yang tepat.
Langkah ini sejalan dengan filosofi Oppo yang selama ini dikenal lebih hati-hati.
Lewat seri Find N, Oppo sukses menghadirkan ponsel lipat dengan desain yang lebih “manusiawi” dan nyaman digunakan, bahkan dipuji lebih praktis dibanding kompetitor.
Alih-alih mengejar status “yang pertama”, Oppo tampaknya ingin menjadi yang paling masuk akal untuk dibeli.
Strategi Jangka Panjang: Tunggu Teknologi Lebih Murah
Dengan menyimpan prototipe ponsel lipat tiga di laboratorium, Oppo sedang memainkan strategi jangka panjang.
Mereka diyakini menunggu hingga harga panel layar fleksibel turun, sistem engsel makin matang dan murah dan pasar ponsel lipat semakin luas.
Saat semua faktor ini bertemu, Oppo bisa merilis ponsel tri-fold yang bukan cuma canggih, tapi juga lebih terjangkau untuk konsumen umum.
Jadi, kenapa ponsel lipat tiga Oppo belum dijual?
Jawabannya sederhana: bukan karena Oppo tidak mampu, tapi karena pasarnya belum siap.
Teknologinya sudah ada, prototipenya sudah nyata, tetapi Oppo memilih menunggu sampai produk tersebut benar-benar masuk akal secara harga dan pasar.
Jika waktunya tiba, bukan tidak mungkin Oppo justru akan menjadi brand yang mengguncang pasar ponsel lipat tiga dengan pendekatan yang lebih realistis.
Sekarang tinggal menunggu satu hal: kapan harga teknologi lipat tiga cukup turun untuk jadi “masuk akal” bagi kita semua? (jas)



