Profil JPMorgan, Perusahaan Perbankan Investasi yang Prediksi BYD Bakal Jadi 'Toyota' di Pasar Mobil Listrik Global

JPMorgan Singapore/ Foto: J.P. Morgan

AVNMEDIA.ID - JPMorgan perusahaan perbankan investasi global prediksi bahwa BYD akan menjadi the next 'Toyota' di pasar mobil listrik dunia.

Prediksi itu dikeluarkan berdasarkan catatan riset terbaru, tim analis yang dipimpin oleh Nick Lai.

BYD diprediksi akan mengirimkan 6,5 juta unit secara global pada 2026.

Lantas, bagaimana profil perusahaan JPMorgan?

Berdasarkan situs perusahaan, JPMorgan menulis bahwa perusahaan mereka adalah pemimpin dalam perbankan investasi, perbankan komersial, pemrosesan transaksi keuangan, dan manajemen aset.

JPMorgan melayani jutaan pelanggan, terutama di Amerika Serikat, serta berbagai klien korporat, institusional, dan pemerintah terkemuka di seluruh dunia. Melalui investasi berkelanjutan, inisiatif bisnis, dan komitmen filantropi, kami berupaya membantu karyawan, pelanggan, klien, dan komunitas untuk berkembang dan maju.

  • Manajemen Aset & Kekayaan
  • Perbankan Komersial
  • Perbankan Konsumen & Komunita
  • Perbankan Korporasi & Investasi
  • Teknologi
  • Majalah FORTUNE menempatkan JPMorganChase di peringkat ke-5 dalam daftar "World’s Most Admired Companies" tahun 2024, mempertahankan posisi ini selama dua tahun berturut-turut.

    LinkedIn mengakui JPMorganChase sebagai salah satu perusahaan terbaik untuk perkembangan karier di AS, Inggris, Irlandia, India, dan Prancis. Robin Leopold, Kepala Sumber Daya Manusia Global, membahas jalur karier di JPMorganChase dalam podcast Get Hired oleh LinkedIn News.

    Untuk tahun ketiga berturut-turut, JPMorganChase memenangkan Handshake Early Talent Award sebagai salah satu perusahaan terbaik bagi generasi muda. Selain itu, untuk tahun kedua berturut-turut, perusahaan ini mendapatkan gelar Tech Transformer, menjadikannya tempat yang ideal untuk memulai karier di bidang teknologi.

    Pemberitaan sebelumnya, analis dari JPMorgan merilis perkiraan penjualan BYD dan menyebut perusahaan asal Tiongkok ini berpotensi menjadi “Toyota” di pasar mobil listrik (EV) global.

    Dalam catatan riset terbaru, tim analis yang dipimpin oleh Nick Lai memperkirakan BYD akan mengirimkan 6,5 juta unit secara global pada 2026. Angka ini naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 6 juta unit pada 9 Juli tahun lalu.

    Untuk pasar luar negeri, BYD diprediksi akan menjual sekitar 1,5 juta unit pada 2026, sama seperti estimasi sebelumnya.

    Dengan proyeksi terbaru ini, JPMorgan memperkirakan pangsa pasar BYD di segmen kendaraan ringan global, termasuk mobil berbahan bakar bensin, akan meningkat dari 3 persen pada 2023 menjadi 7 persen pada 2026. Sementara itu, pangsa pasar BYD di segmen kendaraan energi baru (NEV) diperkirakan tetap stabil di angka sekitar 22 persen.

    Tahun 2026 diprediksi menjadi titik penting dalam ekspansi global BYD, terutama setelah rampungnya pembangunan empat pabrik produksi di luar negeri yang berlokasi di Thailand, Indonesia, Brasil, dan Hongaria.

    Meskipun Uni Eropa menaikkan tarif impor, JPMorgan meyakini BYD akan tetap bersaing di pasar global dengan mengandalkan keunggulan produk dan fitur, bukan dengan perang harga.

    Pada 2024, BYD berhasil menjual 4,27 juta kendaraan listrik, naik sekitar 41 persen dibandingkan 3,02 juta unit pada 2023, berdasarkan data dari CnEVPost.

    Dari jumlah tersebut, 4,25 juta unit merupakan mobil penumpang listrik dan 21.775 unit lainnya adalah kendaraan listrik komersial.

    Di pasar luar negeri, penjualan BYD mencapai 417.204 unit pada 2024, mengalami kenaikan 71,86 persen dari 242.765 unit di 2023.

    Tim analis JPMorgan memperkirakan penjualan BYD pada 2025 akan tumbuh sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya menjadi 5,5 juta unit.

    Volume penjualan yang lebih tinggi juga diharapkan dapat menekan biaya produksi per unit, yang pada akhirnya akan meningkatkan margin keuntungan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil listrik besar biasanya memangkas harga di awal tahun untuk mengatasi permintaan yang cenderung melemah. Sebagai contoh, pada awal 2023, BYD menurunkan harga beberapa model utama melalui versi Glory Edition.

    Namun, situasinya sedikit berbeda pada 2024. Meskipun Tesla memulai kembali perang harga dengan menawarkan subsidi asuransi untuk Model 3 pada 5 Februari, BYD justru tidak melakukan pemotongan harga di awal tahun.

    Sebagai gantinya, BYD mengadakan acara peluncuran strategi kendaraan pintar pada 10 Februari dan memperkenalkan edisi Smart Driving untuk 21 modelnya tanpa mengubah harga.

    Tim analis JPMorgan melihat langkah ini sebagai bentuk strategi pemasaran harga atau perang harga terselubung.

    “Sebenarnya, sejak 2020 atau 2021, setiap awal tahun kita selalu melihat dua pemimpin harga utama – Tesla dan BYD – melakukan strategi pemasaran harga serupa pada bulan Januari,” tulis tim analis dalam laporan mereka.

    Namun, tahun ini perang harga baru terjadi pada Februari. Hal ini disebabkan oleh insentif tukar tambah yang membuat banyak produsen memiliki stok rendah pada Januari dan telah mengamankan banyak pesanan sejak Desember 2024. (jas)

    Related News
    Recent News
    image
    Business Yang Ditunjuk FedEx untuk Pimpin Kawasan Asia Pasifik? Salil Chari!
    by Adrian Jasman2026-01-23 15:00:00

    FedEx menunjuk Salil Chari sebagai Presiden Asia Pasifik untuk memimpin strategi dan pertumbuhan bis

    image
    Business Kingston Technology Masuk 30 Besar Perusahaan Swasta Teratas AS 2025 versi Forbes
    by Adrian Jasman2026-01-23 12:06:53

    Kingston Technology naik ke peringkat 28 Forbes America’s Top Private Companies 2025.