Perempuan Berdaya Finansial: Dari “Menteri Keuangan Keluarga” hingga Kunci Rumah Impian
ILUSTRASI - Financial Planner Jennittya Fitri Hidayat menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga arah keuangan keluarga/ HO to Avnmedia.id
AVNMEDIA.ID - Di tengah peran perempuan yang kian luas sebagai istri sekaligus ibu, kemampuan mengelola keuangan kini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan.
Ia telah menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keluarga, bahkan menjadi jalan untuk mewujudkan impian besar seperti memiliki rumah sendiri.
Isu ini menjadi sorotan dalam talk show daring bertajuk “Kartini Jaman Now: Pintar Atur Uang, Wujudkan Rumah Impian” yang membahas bagaimana perempuan bisa lebih berdaya secara finansial di era modern.
Ibu, “Menteri Keuangan” dalam Rumah Tangga
Financial Planner Jennittya Fitri Hidayat menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga arah keuangan keluarga.
Menurutnya, meski tidak selalu menjadi pencari nafkah utama, ibu berperan besar dalam menentukan prioritas pengeluaran rumah tangga.
“Meski tidak selalu menjadi pencari nafkah utama, ibu berperan penting dalam menentukan prioritas pengeluaran agar kebutuhan keluarga terpenuhi dan tujuan besar, termasuk memiliki rumah impian, tetap dapat tercapai. Karena itu, ibu bisa disebut ‘Menteri Keuangan’ keluarga,” ujarnya.
Hal Kecil yang Sering Diabaikan, Tapi Berdampak Besar
ementara itu, Head of Finance Komunitas Ibu Punya Mimpi Rizky Amalia menyoroti kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Menurutnya, pengeluaran seperti ongkos kirim, biaya parkir, administrasi, hingga belanja impulsif bisa terlihat kecil, tetapi jika dikumpulkan bisa menjadi beban besar.
“Jika diakumulasi, pengeluaran kecil ini bisa cukup besar. Karena itu penting untuk disiplin terhadap anggaran dan menyiapkan dana tak terduga,” jelasnya.
Aturan Aman Mengatur Cicilan Rumah
Dalam pengelolaan keuangan keluarga, Jennittya menyarankan agar total cicilan utang tidak melebihi 35 persen dari penghasilan bulanan.
Sementara untuk keluarga dengan penghasilan tunggal atau tidak tetap, idealnya berada di kisaran 20–25 persen.
Ia menegaskan bahwa memiliki rumah seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan tekanan.
“Impian punya rumah itu harus bikin keluarga tenang, jangan sampai setiap tanggal tagihan malah bikin stres,” katanya.
Teknologi yang Bantu Wujudkan Rumah Impian
Dari sisi industri, platform Pinhome juga menghadirkan kemudahan bagi masyarakat dalam merencanakan kepemilikan rumah.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata menjelaskan bahwa pengguna kini dapat melakukan simulasi KPR, mencari properti sesuai kemampuan, hingga konsultasi pembiayaan secara lebih mudah.
Ia juga menyebut layanan KPR Takeover menjadi salah satu solusi yang diminati karena dapat membantu menghemat cicilan hingga 40 persen, sekaligus memberikan fleksibilitas proses pengajuan ke berbagai bank.
Literasi Finansial Jadi Kunci Utama
Lebih jauh, para pembicara menekankan pentingnya literasi finansial bagi perempuan agar lebih percaya diri dalam mengelola keuangan keluarga.
Bukan hanya soal menambah penghasilan, tetapi juga tentang mencegah kebocoran pengeluaran dan memastikan setiap rupiah digunakan untuk hal yang benar-benar penting.
“Perempuan adalah pilar pengelolaan keuangan rumah tangga. Literasi finansial harus terus ditingkatkan agar kita lebih siap mencapai tujuan jangka panjang,” tutup Rizky.
Dengan pemahaman yang lebih baik soal keuangan, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi pengatur rumah tangga, tetapi juga penggerak stabilitas ekonomi keluarga menuju masa depan yang lebih pasti. (jas)





