Pabrikan Asing Sulit Bersaing di Pasar Mobil Listrik Kei Car, Kenapa BYD Tetap Luncurkan Racco di Jepang?
KEI CAR BYD DI JEPANG - BYD justru mengambil langkah berani dengan meluncurkan Racco, mobil listrik kei car pertama yang secara eksklusif dirancang untuk pasar Jepang/ Via Car News China
AVNMEDIA.ID - Pasar mobil listrik kei car Jepang dikenal sebagai salah satu segmen paling sulit ditembus pabrikan asing.
Meski volumenya besar, dominasi merek lokal membuat banyak produsen global gagal bersaing.
Namun, BYD justru mengambil langkah berani dengan meluncurkan Racco, mobil listrik kei car pertama yang secara eksklusif dirancang untuk pasar Jepang.
Pertanyaannya, mengapa BYD berani masuk ke pasar yang selama ini nyaris tertutup bagi pemain asing?
Pasar Kei Car Jepang: Besar, Murah, tapi Dikuasai Lokal

Kei car atau light vehicle merupakan tulang punggung pasar otomotif Jepang.
Mobil mungil ini menyumbang sekitar 30–40 persen dari total penjualan mobil nasional.
Sepanjang 2024, penjualan kei car mencapai 1,56 juta unit dari total 4,42 juta mobil yang terjual.
Pada tiga kuartal pertama 2025, angkanya sudah menembus 1,26 juta unit.
Namun besarnya pasar tidak otomatis berarti mudah dimasuki.
Suzuki, Daihatsu, dan Honda menguasai hampir seluruh segmen ini.
Suzuki sendiri memegang sekitar 38 persen pangsa pasar, diikuti Daihatsu 22 persen dan Honda 19 persen.
Sejarah mencatat, pabrikan asing nyaris tidak pernah sukses di segmen kei car Jepang.
Mengapa Pabrikan Asing Sulit Bersaing?
Ada beberapa faktor utama.
Pertama, regulasi kei car Jepang sangat ketat, mulai dari dimensi kendaraan, tenaga maksimal, hingga kapasitas penumpang.
Mobil yang sedikit saja melenceng dari aturan akan langsung gugur.
Kedua, konsumen Jepang sangat loyal pada merek lokal yang sudah puluhan tahun menguasai pasar kei car.
Ketiga, margin keuntungan di segmen ini relatif tipis, sehingga pabrikan asing kesulitan menutup biaya produksi dan distribusi.
Strategi BYD: Racco Dibuat Khusus untuk Jepang
Berbeda dengan pemain asing lain, BYD tidak sekadar mengadaptasi model global.
Racco dirancang dari nol untuk memenuhi seluruh regulasi kei car Jepang.
Mobil ini pertama kali diperkenalkan di Tokyo Motor Show 2025 dan rencananya meluncur pada musim panas atau gugur 2026.
Harga Racco diperkirakan sekitar 2,5 juta yen atau setara Rp250 jutaan, dengan dua pilihan jarak tempuh.
Penetapan harga ini menempatkan Racco di zona kompetitif, meski lebih mahal dibanding kei car konvensional berbahan bakar bensin.
Insentif dan Subsidi Jadi Daya Tarik
Salah satu alasan utama BYD masuk ke segmen ini adalah dukungan kebijakan pemerintah Jepang.
Mobil listrik kei car berpotensi mendapatkan subsidi hingga 550.000 yen, di luar insentif pajak dan biaya kepemilikan yang lebih rendah.
Bagi konsumen perkotaan, kombinasi ukuran kecil, biaya operasional murah, dan status kendaraan listrik menjadi nilai tambah yang signifikan.
Secara Finansial, Untungnya Tidak Instan
Dari sisi bisnis, Racco bukanlah proyek yang langsung mendongkrak laba BYD.
JP Morgan memperkirakan kontribusi Racco terhadap pendapatan BYD pada 2026 hanya sekitar 1–2 persen.
Hal ini wajar, mengingat Racco merupakan model eksklusif Jepang dengan volume awal yang terbatas.
Namun secara unit economics, Racco tetap menarik. Dengan harga 2,5 juta yen, BYD diperkirakan masih mengantongi margin 700–1.120 dolar AS per unit, meski biaya pengembangannya tinggi.
Target Ambisius BYD di Pasar yang Sulit
BYD memperkirakan pasar kei car Jepang yang bisa digarap berada di kisaran 350.000–450.000 unit per tahun.
Target awalnya cukup agresif: menguasai 20–30 persen pasar dalam fase awal.
Jika target tersebut tercapai dan kapasitas produksi optimal, Racco berpotensi menyumbang laba tahunan hingga miliaran dolar AS dalam jangka panjang.
Lebih dari Sekadar Mobil, Ini Taruhan Global BYD
Peluncuran Racco tidak bisa dilepaskan dari ambisi global BYD.
Perusahaan asal China ini kini beroperasi di sekitar 70 negara, didukung pabrik di Brasil, Indonesia, Malaysia, Thailand, Hungaria, dan Turki, serta jaringan 900–1.000 gerai ritel di seluruh dunia.
Di tengah tekanan kompetisi di pasar domestik China, Jepang menjadi uji kredibilitas BYD di pasar otomotif paling ketat di dunia.
Jika Racco berhasil, itu akan menjadi bukti bahwa pabrikan asing pun bisa menembus benteng kei car Jepang—sesuatu yang selama ini dianggap hampir mustahil. (jas)



