JPMorgan Prediksi BYD Jadi "Toyota" di Pasar Mobil Listrik Global, Penjualan Diperkirakan Tembus 6,5 Juta Unit di 2026

Logo BYD/ BYD

AVNMEDIA.ID – Analis dari JPMorgan merilis perkiraan penjualan BYD dan menyebut perusahaan asal Tiongkok ini berpotensi menjadi "Toyota" di pasar mobil listrik (EV) global.

Dalam catatan riset terbaru, tim analis yang dipimpin oleh Nick Lai memperkirakan BYD akan mengirimkan 6,5 juta unit secara global pada 2026. Angka ini naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 6 juta unit pada 9 Juli tahun lalu.

Untuk pasar luar negeri, BYD diprediksi akan menjual sekitar 1,5 juta unit pada 2026, sama seperti estimasi sebelumnya.

Dengan proyeksi terbaru ini, JPMorgan memperkirakan pangsa pasar BYD di segmen kendaraan ringan global, termasuk mobil berbahan bakar bensin, akan meningkat dari 3 persen pada 2023 menjadi 7 persen pada 2026. Sementara itu, pangsa pasar BYD di segmen kendaraan energi baru (NEV) diperkirakan tetap stabil di angka sekitar 22 persen.

Tahun 2026 diprediksi menjadi titik penting dalam ekspansi global BYD, terutama setelah rampungnya pembangunan empat pabrik produksi di luar negeri yang berlokasi di Thailand, Indonesia, Brasil, dan Hongaria.

Meskipun Uni Eropa menaikkan tarif impor, JPMorgan meyakini BYD akan tetap bersaing di pasar global dengan mengandalkan keunggulan produk dan fitur, bukan dengan perang harga.

Pada 2024, BYD berhasil menjual 4,27 juta kendaraan listrik, naik sekitar 41 persen dibandingkan 3,02 juta unit pada 2023, berdasarkan data dari CnEVPost.

Dari jumlah tersebut, 4,25 juta unit merupakan mobil penumpang listrik dan 21.775 unit lainnya adalah kendaraan listrik komersial.

Di pasar luar negeri, penjualan BYD mencapai 417.204 unit pada 2024, mengalami kenaikan 71,86 persen dari 242.765 unit di 2023.

Tim analis JPMorgan memperkirakan penjualan BYD pada 2025 akan tumbuh sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya menjadi 5,5 juta unit.

Volume penjualan yang lebih tinggi juga diharapkan dapat menekan biaya produksi per unit, yang pada akhirnya akan meningkatkan margin keuntungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil listrik besar biasanya memangkas harga di awal tahun untuk mengatasi permintaan yang cenderung melemah. Sebagai contoh, pada awal 2023, BYD menurunkan harga beberapa model utama melalui versi Glory Edition.

Namun, situasinya sedikit berbeda pada 2024. Meskipun Tesla memulai kembali perang harga dengan menawarkan subsidi asuransi untuk Model 3 pada 5 Februari, BYD justru tidak melakukan pemotongan harga di awal tahun.

Sebagai gantinya, BYD mengadakan acara peluncuran strategi kendaraan pintar pada 10 Februari dan memperkenalkan edisi Smart Driving untuk 21 modelnya tanpa mengubah harga.

Tim analis JPMorgan melihat langkah ini sebagai bentuk strategi pemasaran harga atau perang harga terselubung.

"Sebenarnya, sejak 2020 atau 2021, setiap awal tahun kita selalu melihat dua pemimpin harga utama – Tesla dan BYD – melakukan strategi pemasaran harga serupa pada bulan Januari," tulis tim analis dalam laporan mereka.

Namun, tahun ini perang harga baru terjadi pada Februari. Hal ini disebabkan oleh insentif tukar tambah yang membuat banyak produsen memiliki stok rendah pada Januari dan telah mengamankan banyak pesanan sejak Desember 2024. (jas)

BERITA SEPUTAR BYD

Related News
Recent News
image
Business Schneider Electric Diganjar Penghargaan ESG 2025, Tegaskan Kepemimpinan Keberlanjutan Global
by Adrian Jasman2026-01-29 12:01:00

Schneider Electric raih penghargaan ESG 2025, tegaskan kepemimpinan keberlanjutan global.

image
Business Maybank Group Luncurkan ROAR30, Targetkan ROE 13–14% pada 2030
by Adrian Jasman2026-01-29 11:00:00

Maybank luncurkan strategi ROAR30, fokus Humanising Financial Services, target ROE 13–14% 2030.