BYD Tegas Baterai LFP Tetap Jadi Standar Mobil Listrik, Aspek Keselamatan Jadi Alasan Utama
CHARGE - BYD mengambil sikap jelas: baterai LFP akan terus digunakan sebagai standar, baik untuk model saat ini maupun yang akan datang, tanpa membedakan segmen kendaraan/ X @sachi
AVNMEDIA.ID - Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan baterai lithium iron phosphate (LFP) sebagai standar utama di seluruh lini mobil listriknya.
Sikap ini ditegaskan langsung oleh manajemen BYD dalam ajang Tokyo Motor Show 2025, di tengah perdebatan industri soal penggunaan baterai generasi baru seperti solid-state.
China Jadi Pusat Pertumbuhan Baterai Mobil Listrik Dunia
General Manager Brand and Public Relations BYD, Li Yunfei sebagaimana diberitakan IT-home, menyebut China sebagai pasar baterai EV dengan pertumbuhan tercepat dan sumber daya paling lengkap di dunia. '
Menurutnya, keunggulan China terletak pada kemampuan riset yang matang, rantai pasok yang solid, serta basis industri yang kuat.
Meski teknologi baterai solid-state kerap digadang-gadang sebagai masa depan kendaraan listrik, Li menilai teknologi baterai yang digunakan saat ini sudah cukup matang dan mampu menjawab kebutuhan konsumen, termasuk performa di kondisi cuaca dingin dan dukungan infrastruktur pengisian daya yang semakin luas.
Keselamatan Jadi Pertimbangan Utama BYD
Dalam pernyataannya, Li Yunfei secara tegas menempatkan keselamatan sebagai alasan utama BYD tetap setia pada baterai LFP.
Ia menyoroti maraknya laporan kebakaran kendaraan listrik non-LFP di media sosial yang membentuk persepsi negatif terhadap keamanan baterai EV secara umum.
“Keselamatan adalah hal mendasar. Keselamatan adalah kemewahan terbesar. Keselamatan adalah tujuan dasar sebuah produk,” tegas Li.
BYD pun mengambil sikap jelas: baterai LFP akan terus digunakan sebagai standar, baik untuk model saat ini maupun yang akan datang, tanpa membedakan segmen kendaraan.
Pengalaman Bus Listrik Jadi Bukti Keandalan LFP
Sebagai pembuktian, Li mencontohkan program elektrifikasi bus umum di China yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun.
Mayoritas bus listrik menggunakan baterai LFP dan terbukti minim insiden kebakaran serius, meskipun dioperasikan dalam kondisi berat dan mengangkut puluhan penumpang setiap hari.
Keputusan industri transportasi publik menggunakan LFP, menurut Li, dilandasi pertimbangan keselamatan yang ketat dan kini menjadi rujukan bagi pengembangan kendaraan listrik pribadi.
Data Pasar: LFP Dominasi Lebih dari 80 Persen
Dominasi LFP juga tercermin dari data pasar. Sepanjang Januari–September 2025, pemasangan baterai LFP di China mencapai 493,9 GWh, tumbuh 42,5 persen secara tahunan.
Angka tersebut mewakili lebih dari 80 persen total pasar baterai EV China, menjadikannya teknologi paling dominan saat ini.
Capaian ini sekaligus memperkuat posisi LFP sebagai tulang punggung industri kendaraan listrik di China.
Keunggulan Teknis LFP Dibanding Baterai Ternary
Dari sisi teknis, baterai LFP dinilai unggul dalam hal usia pakai dan stabilitas termal.
LFP mampu mempertahankan kapasitas setelah lebih dari 3.500 siklus pengisian, sementara baterai lithium ternary rata-rata bertahan di sekitar 2.000 siklus.
Selain itu, suhu thermal runaway baterai LFP berada di atas 500 derajat Celsius, jauh lebih tinggi dibanding baterai ternary yang berada di bawah 300 derajat Celsius, sehingga risiko kebakaran dinilai lebih rendah.
BYD Akui Jarak Tempuh Bukan Segalanya
Li Yunfei mengakui bahwa beberapa pabrikan masih memilih baterai lithium ternary untuk mengejar jarak tempuh yang lebih panjang.
Namun, ia menegaskan bahwa jarak tempuh tidak boleh mengorbankan aspek keselamatan.
Sebagai salah satu pemain utama industri EV global, BYD berharap seluruh pelaku industri menjadikan keselamatan sebagai standar minimum dalam pengembangan teknologi baterai ke depan. (jas)



