AI dan Hilirisasi Jadi Peluang Baru, DBS Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Geopolitik Global
Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo sedang berbagi perspektif dalam sesi Navigating US-Asia Market Regime sebagai rangkaian DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World di Jakarta, Rabu (15/07/2026). Para narasumber mengungkapkan bahwa Indonesi
AVNMEDIA.ID - Ketidakpastian geopolitik global akibat rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok dinilai belum mengubah prospek jangka menengah ekonomi Indonesia.
Di tengah perubahan lanskap ekonomi dunia, Indonesia justru disebut memiliki fondasi yang kuat untuk terus tumbuh, ditopang konsumsi domestik, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, hingga program hilirisasi industri.
Pandangan tersebut mengemuka dalam DBS Insights Forum 2026 bertajuk A New Lens on a Multipolar World yang diselenggarakan PT Bank DBS Indonesia di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal, Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo, serta Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry.
Selain membahas dinamika geopolitik, forum juga mengulas prospek investasi, perkembangan Artificial Intelligence (AI), hingga peluang ekonomi Indonesia di tengah perubahan rantai pasok global.
Rivalitas AS-Tiongkok Ubah Peta Ekonomi Dunia
Bank DBS Indonesia menilai dunia saat ini memasuki fase baru setelah kembali terbentuknya konfigurasi dua kekuatan utama global, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok.
Persaingan kedua negara tidak lagi terbatas pada sektor militer, tetapi juga merambah ekonomi, teknologi, perdagangan, hingga diplomasi internasional.
Kondisi tersebut turut memengaruhi volatilitas pasar global.
Mengacu pada Economic Surprise Index Bloomberg per pertengahan Juli 2026, ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan performa di atas ekspektasi dengan indeks 55,0.
Sebaliknya, Tiongkok berada di level -20,8, menandakan data ekonomi yang dirilis masih berada di bawah perkiraan pasar.
Sementara kawasan Asia Pasifik justru mencatat optimisme dengan indeks 51,5.
Indonesia Dinilai Punya Modal Geopolitik yang Kuat
Founder dan Chairman FPCI, Dino Patti Djalal, menilai posisi Indonesia dalam peta geopolitik dunia saat ini jauh lebih kuat dibanding beberapa dekade sebelumnya.
Menurutnya, Indonesia kini memiliki posisi strategis sebagai negara anggota G20 dengan ekonomi berpendapatan menengah atas serta kondisi geopolitik yang relatif stabil.
"Indonesia bukan lagi negara dunia ketiga. Kita adalah negara G20 dengan pendapatan ekonomi menengah ke atas. Geopolitik kita relatif aman karena rivalitas global saat ini tidak secara langsung mengarah ke Indonesia," kata Dino.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis berbagai negara.
Namun demikian, Dino mengingatkan bahwa keunggulan geopolitik harus dibarengi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar global.
DBS: Investasi Perlu Melihat Tren Jangka Panjang
Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan keputusan investasi saat ini tidak lagi cukup hanya mempertimbangkan sentimen pasar jangka pendek.
Investor, kata dia, perlu melihat perubahan struktural ekonomi global yang sedang berlangsung.
Menurut Djoko, terdapat tiga kawasan utama yang layak menjadi perhatian investor, yakni Amerika Serikat, Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia.
Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi, terutama pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Sementara Tiongkok dinilai berhasil mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, Asia memperoleh keuntungan dari pergeseran rantai pasok global.
"Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Bank DBS Indonesia terus menghadirkan insights regional agar nasabah dapat mengambil keputusan investasi secara lebih percaya diri," ujarnya.
AI dan Hilirisasi Jadi Katalis Baru Pertumbuhan Indonesia
Selain menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, Asia juga berperan penting dalam rantai pasok industri masa depan.
Indonesia disebut memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pemasok utama mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang dibutuhkan industri teknologi global.
Permintaan terhadap mineral strategis diperkirakan akan terus meningkat seiring pesatnya investasi dunia pada sektor Artificial Intelligence.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia melalui program hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah.
Yunarto: Daya Saing Ditentukan Fundamental Ekonomi
Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai perubahan geopolitik global membuat setiap negara harus semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi.
Menurutnya, langkah Indonesia memperkuat hubungan dengan berbagai mitra strategis, termasuk bergabung dengan BRICS dan mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat, merupakan bagian dari upaya menjaga kepentingan nasional.
Meski demikian, Yunarto menegaskan daya saing Indonesia pada akhirnya tetap bergantung pada kekuatan ekonomi domestik.
"Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya. Ketika regulasi memberikan kepastian, birokrasi semakin efektif, dan iklim investasi semakin kondusif, Indonesia memiliki daya saing yang lebih tinggi," ujarnya.
DBS Optimistis Prospek Indonesia Tetap Positif
Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid meski dunia menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, sejumlah faktor struktural menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Mulai dari kekayaan sumber daya alam, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga hilirisasi industri yang terus meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.
"Indonesia memiliki sejumlah keunggulan struktural yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, konsumsi domestik yang kuat, bonus demografi, hingga program hilirisasi," katanya.
Boy juga menilai meningkatnya investasi global pada sektor Artificial Intelligence akan menjadi peluang tambahan bagi Indonesia.
Sebagai salah satu produsen utama nikel dan berbagai mineral strategis, Indonesia diperkirakan akan memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan bahan baku industri teknologi.
Menurutnya, meskipun pasar masih dipengaruhi dinamika geopolitik, kebijakan fiskal, hingga arah suku bunga global, kondisi saat ini dinilai jauh lebih baik dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar menarik investasi sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.
Sebagai bagian dari komitmen memberikan layanan pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia juga menegaskan akan terus menghadirkan panduan investasi yang relevan bagi nasabah di tengah perubahan ekonomi global.
Komitmen tersebut turut dibuktikan melalui raihan penghargaan Best Private Bank Indonesia 2026 dari FinanceAsia serta Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance. (jas)





