9 dari 10 Pekerja Indonesia Menjadi “Sandwich Generation”, 23% Terpaksa Tunda Pensiun

POLIS ASURANSI - Keamanan finansial berkorelasi dengan optimisme. Di antara responden optimis, 60% menyebut rasa aman finansial sebagai faktor utama. Sebaliknya, yang cemas menghadapi pensiun khawatir tidak mampu mendukung keluarga (44%)/ Foto: Pexels

AVNMEDIA.ID -  Tekanan finansial untuk menopang orang tua sekaligus anak kini menjadi kenyataan bagi 90% pekerja di Indonesia, fenomena yang dikenal sebagai “sandwich generation”.

Kondisi ini berdampak langsung pada kesiapan pensiun, dengan 40% responden menurunkan ekspektasi gaya hidup, dan 23% menunda atau memperkirakan harus terus bekerja setelah mencapai usia pensiun.

Temuan tersebut berasal dari survei Sun Life bertajuk “Membayangkan Kembali Pensiun: Kesenjangan Pensiun di Asia / Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide”.

Survei ini juga mencatat bahwa 77% responden Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja pasca-pensiun, menyoroti tekanan ekonomi yang membayangi generasi pekerja masa kini.

Lonjakan Jumlah Lansia dan Kebutuhan Perencanaan Finansial

Tekanan ini muncul di tengah perubahan demografi.

Menurut data ESCAP (2023), jumlah penduduk Indonesia usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang (11,1% populasi) pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta orang (20,5%) pada 2050.

Peningkatan usia harapan hidup memperpanjang masa produktif sekaligus memperbesar kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang.

Sebanyak 71% responden mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang biaya hidup dan menjaga keamanan finansial.

Bagi sebagian, bekerja lebih lama merupakan pilihan pribadi; bagi sebagian lain, ini adalah konsekuensi tekanan ekonomi.

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia, menyatakan bahwa bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang fleksibel.

"Bagi yang lain, ini mencerminkan tekanan keuangan. Merencanakan pensiun lebih awal dan menyeluruh menjadi kunci menentukan realitas mana yang akan dijalani," jelasnya dalam keterangan pers diterima redaksi Avnmedia.id 

 

Gold Star Planners vs Stalled Starters

Riset mengelompokkan responden menjadi dua kategori:

  • Gold Star Planners: yang telah menyiapkan pensiun secara matang.
  • Stalled Starters: yang menunda perencanaan pensiun.

Sebanyak 43% responden yang menunda pensiun menyebut biaya pendidikan dan kebutuhan hidup anak sebagai faktor utama.

Perubahan Perilaku Finansial di Era AI

Studi ini juga mencatat pergeseran perilaku dalam mencari informasi finansial.

Penggunaan generative AI untuk pengambilan keputusan finansial meningkat dari 13% menjadi 30%, sementara konsultasi dengan bank turun dari 40% menjadi 31%, dan penasihat keuangan independen dari 44% menjadi 31%.

Albertus menekankan bahwa teknologi menjadi sumber informasi awal. 

"Tapi keputusan jangka panjang tetap memerlukan pertimbangan matang. Institusi keuangan berperan penting menyediakan panduan yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan," jelasnya. 

Faktor Psikologis dan Optimisme terhadap Pensiun

Keamanan finansial berkorelasi dengan optimisme.

Di antara responden optimis, 60% menyebut rasa aman finansial sebagai faktor utama.

Sebaliknya, yang cemas menghadapi pensiun khawatir tidak mampu mendukung keluarga (44%).

Hingga 24% responden belum memiliki rencana pensiun, 34% baru menyusun rencana dalam dua tahun terakhir, dan hanya 38% yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiun mereka.

Fenomena “sandwich generation” dan perubahan perilaku ini menegaskan bahwa perencanaan pensiun di Indonesia memerlukan pendekatan lebih strategis dan dukungan teknologi agar generasi pekerja bisa pensiun dengan nyaman, tanpa tekanan finansial yang membebani. (jas)

 

Related News
Recent News
image
Business Couple Budgeting di Hari Valentine: Strategi Atur Keuangan Tanpa Drama ala blu by BCA Digital
by Adrian Jasman2026-02-14 14:00:00

Couple budgeting ala blu bantu pasangan atur keuangan bareng lebih transparan tanpa drama.

image
Business Sepanjang 2025, Klaim Rp10,7 Triliun Dibayarkan IFG Life & Mandiri Inhealth
by Adrian Jasman2026-02-13 18:00:00

IFG Life & Mandiri Inhealth bayar klaim Rp10,7T sepanjang 2025 untuk 1,1 juta peserta.